Aku padamu jika kau pada_NYA
Jika kau tak pada_NYA, maka tak mudah bagiku padamu
Jika kau ingin aku padamu maka mendekatlah pada_NYA
Bukan mendekat langsung padaku
Karena DIA lah yang memegang hatiku.
Aku mungkin bisa tanpa kau
Tapi aku tak bisa tanpa_NYA.
Aku, kau, dan NYA
Bukan rupa yang kan membuatku padamu
Bukan harta yang kan membuatku silau padamu
Bukan pula tahta yang kulihat darimu
Rupa kan layu seiring bertambahnya usia
Harta bisa habis kapan saja
Tahta bukanlah segalanya
Aku padamu jika kau dapat membuatku dekat dengan_NYA
Aku padamu, yang dengan memandangmu membuatku ingat pada_NYA
Aku kan melihatmu karena_NYA
Jika DIA ada dalam hatimu, maka aku padamu
If I could see GOD in you, I'm to you ...
Pernahkah kamu merasa iri dengan kesuksesan, kehebatan, ketenaran, dan segudang kelebihan lain yang dimiliki orang-orang yang kamu ketahui? Dan tanpa sadar kamu begitu silau dengan kelebihannya, begitu senang mengetahui aktivitasnya yang penuh dengan inspirasi, dan kamu teramat ingin menjadi sepertinya. Kamu merasa bahwa dirimu sangat jauh dari sosoknya yang berkilau. Jika dirinya ibarat bintang yang bersinar terang, maka kamu ibarat awan hitam di langit pekat. Kamu hanya bisa mengintipnya, berharap suatu masa kan menjadi sepertinya.
Ya, mungkin banyak di antara kamu yang pernah merasakan hal tersebut. Namun apakah yang dapat kamu lakukan? Hanya menjadi manusia yang iri dengan kelebihan-kelebihan orang lain, menjadi penonton segala kecemerlangan orang lain, atau kamu justru ingin menjadi pribadi yang juga bisa mengibarkan segala potensi positif kepada orang lain? Pilihan tersebut ada pada diri masing-masing dengan ALLAH sebagai penggenggamnya.
Sadarkah sahabat? ALLAH telah memberikanmu segudang potensi untuk dikembangkan, secerdas-cerdasnya akal untuk digunakan, seluas-luasnya ilmu untuk dipelajari, sejernih-jernihnya hati untuk diselami, sebaik-baik Agama (Islam) sebagai penuntun kehidupan. Maka tak adalagi alasan untukmu tak mau berupaya memperbaiki diri, menjemput kesuksesan dunia dan akhirat.
Aku adalah aku.
Aku bukan kamu, dia, atau mereka.
Aku adalah aku dengan segala kelemahan yang ada.
Aku dengan segala kelebihan yang ALLAH berikan.
Aku yang berdiri tegak karena curahan cinta dan kasih sayang_NYA yang melimpah ruah.
Maka Aku, adalah aku yang kan bersinar terang dengan jalanku tuk menyinari sekitar karena_NYA.
Mungkin kamu masih iri karena melihatnya di luar sana semakin berkilauan, sementara dirimu masih merangkak menuju langit cita dan cinta. Aku, kamu, dia, dan mereka sudah ALLAH berikan alur hidupnya masing-masing. Tak usah berkecil hati jika saat ini kamu belum sesukses, secemerlang, sebaik ia yang telah lebih dahulu menjemputnya. Tak salah jika kamu mengaguminya, tetapi jangan sampai membuatmu lupa diri. Justru yang harus kamu lakukan adalah banyaklah belajar darinya, ambilah energi positif darinya, dan terapkanlah energi itu dengan caramu sendiri.
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan ALLAH kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada ALLAH sebagian dari karunia_NYA. Sungguh, ALLAH Maha Mengetahui segala sesuatu.” [ An-Nisaa’ : 32 ]
Kembangkanlah potensi yang kamu miliki dari segi apapun, entah itu dari segi pendidikan, sosial, keagamaan, kesehatan, kesenian, olahraga sesuai kesanggupanmu. Berjuanglah sungguh-sungguh untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik di mata ALLAH. Tak usahlah risau jika tak ada manusia yang memujimu, mendukungmu, melihatmu. Karena yang kau butuhkan hanya penilaian di mata_NYA. Penilaian yang lebih hakiki sebagai penentuan berguna atau tidaknya sesuatu yang telah kau usahakan itu.
Yakinlah, dirimu akan selalu punya tempat di hati segenap manusia dengan sinarmu yang unik. Yakinlah bahwa dirimu akan mampu menjadi secemerlang dirinya ataupun bahkan lebih dari itu. Percayalah bahwa “Aku adalah Aku. Aku bukan kamu, dia, atau mereka. Aku adalah Aku yang kan bersinar terang dengan jalanku tuk menyinari sekitar karena-Nya.” Just be your self, bersinarlah dengan caramu sendiri.
Sebuah percikan yang tertanam dari Tafsir Al Misbach Metro TV
Ketika Aisyah mendapat tugas dari Rasulullah SAW untuk memotong kambing dan membagikannya ke tetangga, saat Rasulullah SAW bertanya apakah sudah dibagi semua, Aisyah berkata " Yang Tinggal cuma Paha, Ya Rasulullah, lainnya habis sudah dibagikan semua". Langsung Rasulullah SAW berkata " bukan begitu memaknainya, sebenarnya yang akan habis yang paha ini sedangkan yang lain adalah harta kita sebenarnya, yang abadi".
Sebuah cuplikan percakapan agung dari Rasulullah SAW tentang memaknai harta kita sebenarnya. Harta kita yang sebenarnya adalah ada tiga : 1. Makanan yang kita makan sampai habis
2. baju yang kita pakai sampai lapuk
3. Semua yang kita infak an di jalan_NYA
yang 1 dan 2 akan habis dan yang abadi adalah yang ketiga, makanya dalam berbagai macam kesempatan bersedekah segeralah jangan sampai menunggu suatu saat dimana kita nggak bisa lagi bersedekah karena tidak ada lagi yang mau disedekahin.
Tips agar kita senang bersedekah mari kita analogikan seperti ini: Misal kan anda pergi ke Bandung membeli pakaian, lalu saat pulang berat sekali membawanya ke rumah anda di Jakarta, dan anda berinisiatif menitipkan agar diantar orang ke rumah anda, Apakah anda akan merasa senang dan ringan??
Kalau anda menjawab benar/Ya, maka rajin2 lah bersedekah, karena itulah yang akan disampaikan oleh orang2 yang memanfaatkan sedekah kita ke "Rumah" kita sebenarnya di Akhirat nanti, karena saat didunia ini kita yang diberi titipan harta ini juga menitipkan ke orang lagi, karena memang itulah yang disukai Allah SWT, dan ini salah satu ciri ketaqwaan kita yang kita damba ..
Sudah siapkah bersedekah lagi ... dan berlomba" untuk memperbanyak sedekah mulai hari ini ...??
Semoga pemahaman tentang apa yang disebut harta ini membukakan mata kita mensyukuri segala apapaun yang telah diberikan ALLAH SWT ke kita dan juga menjadi "kran" yang selalu siap untuk mengalirkannya ke orang lain yang membutuhkan ... Aamiin.
Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor. Telah lewat pukul 11 malam. Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang selarut ini.
Ah, hari yang menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berjalan, warna langit tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang lelah ditambah dengan "acara" kehujanan.
Setengah berlari saya mencari tempat berlindung. Untunglah, penjual nasi goreng yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana.
Lumayan, pikir saya. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian ditemani rokok dan lampu petromak yang masih menyala.
Dia menyilahkan saya duduk. "Disini saja dik, daripada kehujanan... ," begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh.
Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya, saya berkata, "tolong bikin mie goreng pak, di makan disini saja."
Sang Bapak tersenyum, dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia tampak sibuk. Bumbu dan penggorengan pun telah siap untuk di racik. Tampaklah pertunjukkan sebuah pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar.
Tangannya cekatan sekali meraih botol kecap dan segenap bumbu. Segera saja, mie goreng yang mengepul telah terhidang. Keadaan yang semula canggung mulai hilang. Basa-basi saya bertanya, "Wah hujannya tambah deras nih, orang-orang makin jarang yang keluar ya Pak?" Bapak itu menoleh kearah saya, dan berkata, "Iya dik, jadi sepi nih dagangan saya.." katanya sambil menghisap rokok dalam-dalam.
"Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli ya Pak?" kata saya, "Wah, rezekinya jadi berkurang dong ya?" Duh. Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja tak banyak yang membeli kalau hujan begini. Tentu, pertanyaan itu hanya akan membuat Bapak itu tambah sedih.
Namun, agaknya saya keliru...
"Gusti ALLAH, ora sare dik,( ALLAH itu tidak pernah istirahat )" begitu katanya. "Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya."
Bapak itu melanjutkan, "Anak saya yang disini pasti bisa ngojek payung kalau besok masih hujan ..."
Degh. Duuh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, "Gusti ALLAH ora sare". ALLAH Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba_NYA. Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya, tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Maknanya terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan.
Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi, dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma harus bersabar. Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok.
Hmm ... saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. Beribu pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak dibenak saya. "Ya ALLAH, Engkau Memang Tak Pernah Beristirahat" Untunglah,hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan.
Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti ALLAH Ora Sare ...
Gusti ALLAH Ora Sare ...
Begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya. ALLAH memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan cara yang tak terduga. Selalu saja, DIA memberikan Cinta kepada saya lewat hal-hal yang sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi semakin banyak belajar.
Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan.
Namun, rupanya tahun ini ALLAH punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. Dan kali ini ALLAH pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar dan istimewa.
Aku berdoa agar diberikan kekuatan ...
Namun, ALLAH memberikanku cobaan agar aku kuat menghadapinya.
Aku berdoa agar diberikan kebijaksanaan ...
Namun, ALLAH memberikanku masalah agar aku mampu memecahkannya.
Aku berdoa agar diberikan kecerdasan ...
Namun, ALLAH memberikanku otak dan pikiran agar aku dapat belajar dari_NYA.
Aku berdoa agar diberikan keberanian ...
Namun, ALLAH memberikanku persoalan agar aku mampu menghadapinya.
Aku berdoa agar diberikan cinta dan kasih sayang ...
Namun, ALLAH memberikanku orang-orang yang luka hatinya agar aku dapat berbagi dengannya.
Aku berdoa agar diberikan kebahagiaan ...
Namun, ALLAH memberikanku pintu kesempatan agar aku dapat memanfaatkannya.
Berikut Base on True Story yang saya dapat dari milist, yang juga membuat saya terharu dalam membacanya dan mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
- - - - - - -
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno (58 tahun), kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.
Mereka dikarunia 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak Pak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu, semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata "Pak, kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat Bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak. Bahkan Bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu".
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "Sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan Bapak menikah lagi. Kami rasa ibupun akan mengijinkannya. Kapan Bapak menikmati masa tua Bapak Dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat Bapak, kami janji kami akan merawat ibu bergantian".
Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak2mereka. "Anak2ku, Jikalau hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Bapak akan menikah, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian" ... sejenak kerongkongannya tersekat, "Kalian yg selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini. Kalian menginginkan Bapak bahagia, apakah batin Bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang. Kalian menginginkan Bapak yg masih diberi ALLAH kesehatan dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yang masih sakit." Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno ... dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu ...
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber diacara Islami Selepas shubuh dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa2 ... disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.
"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai karena ALLAH semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu"..."
"Sekarang dia sakit berkorban untuk saya karena ALLAH ... dan itu merupakan ujian bagi saya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit. Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya dapat bercerita kepada ALLAH".
"Diatas sajadah ... dan saya yakin hanya kepada ALLAH saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya ..."
(sumber : milist) For My Lovely Hubby :
"Cinta memang lebih terasa membahagiakan di waktu-waktu suka,
tapi cinta lebih dibuktikan pada waktu-waktu sulit."
Semoga Cinta Ayah bisa terus aku rasakan dalam kondisi apapun ... Aamiin
@ Tuhan, Saat aku meyukai seorang teman, Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir, Sehingga aku akan tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir.
@ Tuhan, Ketika aku merindukan kekasih, Rindukanlah aku kepada yang rindu kepada cinta sejati-MU, Agar kerinduanku kepada-MU semakin menjadi.
@ Tuhan, Jika aku hendak mencinta seseorang, Temukanlah aku dengan orang yang mencintai-MU, Agar bertambah kuat cintaku pada-MU.
@ Tuhan, Ketika aku sedang jatuh cinta, Jagalah cinta itu, Agar tidak melebihi cintaku pada-MU.
@ Tuhan, Ketika aku berucap aku cinta padamu, Biarlah kuakatakan kepada yang hatinya tertaut pada-MU, Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-MU.