Ketika seorang lelaki sedang berada disebuah padang sahara yang amat luas, tiba-tiba ia mendengar suara yang muncul dari awan , "Siramilah kebun si Fulan!". Awan tersebut kemudian berjalan dan menumpahkan airnya disuatu tanah yang banyak bebatuannya. Ternyata sudah ada selokan-selokan yang menampung semua air itu, lalu mengalir pada satu tempat.
Dan ternyata sudah ada pula seorang laki-laki yang berdiri di kebunnya dan membelokkan aliran air tersebut dengan sekopnya. Kemudian lelaki pertama tadi bertanya kepada pemilik kebun tersebut, "Wahai hamba Allah, siapakah namamu? Ia menjawab "Fulan", nama yang terdengar dari awan tadi ". Si pemilik kebun balik bertanya , "Wahai hamba Allah , kenapa anda menanyakan nama saya?" Ia menjawab, "Sesungguhnya aku mendengar suara dari awan yang mencurahkan air ini, katanya "Siramilah kebun si Fulan," yaitu nama anda.
Lantas apa yang anda perbuat terhadap kebun ini?
Sipemilik kebun menjawab , "Adapun mengenai apa yang engkau katakan itu, karena saya selalu melihat kepada hasil panen yang dikeluarkan oleh kebun ini. Kemudian sepertiganya saya shodakahkan, sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga saya,, dan yang sepertiga lainnya saya kembalikan ke kebun ( Yakni sebagai modal untuk mengolahnya lagi -ed) (HR Muslim)
Imam Ibnul Qoyyim mengatakan : "Sesungguhnya shodaqah bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak berbagai bencana sekalipun pelakunya orang yang "Fajir" (pendosa), zholim, atau bahkan orang kafir, karena Allah akan menghilangkan berbagai macam bencana dengan perantaraan shadaqoh tersebut. Hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi umat manusia, baik yang berpendidikan maupun orang yang masih awam. Seluruh penduduk muka bumi sepakat tentang hal ini karena mereka telah mencobanya. ( Al-wa'bilu sh-shoyyib, karya ibnul Qoyyim (1/49)
Beliau menyebutkan tentang sebab-sebab yang bisa melapangkan dada, "Diantaranya adalah berbuat baik kepada orang lain, dan membantu mereka dengan sesuatu yang memungkinkan untuk diberikan, baik berupa harta , jabatan, fisik dan berbagai macam kebaikan lainnya.
Karena orang yang dermawan lagi suka berbuat baik adalah orang yang paling lapang dadanya, paling bagus jiwanya, dan paling tentram hatinya. Sedangkan orang yang bakhil yang tidak memiliki kebaikan dalam dirinya adalah orang yang paling sempit dadanya, paling susah hidupnya, dan paing besar kesedihan maupun gundah gulananya ( Zadu 'l-Ma'ad, karya Ibnul qoyyim (2/24)
Beberapa ayat dan hadis tentang shodaqah :
"Orang-orang yang menafkahkan hartanya dimalam dan siang hari secara sembunyi dan terang-terangan , maka mereka mendapat pahala disisi Robbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak(pula) mereka bersedih hati (Qs Al-baqarah :274)
"Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuk nya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak (Al -Hadid :11)
"Katakanlah , sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendakinya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantikannya dan Dialah Pemberi Rezeki yang sebaik-baiknya"
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa nabi bersabda "Tiada hari yang dilewati oleh semua hamba kecuali pada pagi harinya ada dua malaikat turun. Kemudian salah satu dari malaikat tersebut berkata, "Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak." sedang malaikat yang satunya lagi berucap, "Ya Allah, hilangkanlah harta orang yang tidak mau bershodaqah (bakhil)" ( HR Bukhari)
Rasullulah SAW bersabda : "Adakah diantara kalian yang lebih mencintai harta untuk ahli warisnya daripada hartanya sendiri? "Mereka para sahabat menjawab, "Wahai Rasulullah , tidak ada seorangpun diantara kami kecuali lebih mencintai hartanya sendiri."
Beliau bersabda , "Sesungguhnya hartanya yang sebenarnya adalah yang telah ia persembahkan (infakkan) . Sedangkan harta untuk ahli warisnya adalah yang tidak ia infakkan. "(HR Bukhari)
Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah berkata :" Setiap orang pada hari kiamat nanti akan berada dibawah naungan shodaqahnya, sehingga Allah memisahkan diantara manusia." atau beliau bersabda, "Sehingga Allah memutuskan diantara manusia" (diriwayatkan oleh Ahmad dan di shohihkan oleh Al-Albanni dalam shohihu t-Tharghib wa t -Tarhib)
Diriwayatkan dari Abu Huroiroh bahwa Rasulullah bersabda :
"Seorang hamba berkata , 'Hartaku, hartaku' Sesungguhnya harta yang ia punyai itu hanya ada tiga , yaitu apa yang dia makan kemudian habis, apa yang ia pakai kemudian usang , dan apa yang ia berikan kemudian ia mendapatkan pahalanya. Sedangkan yang selain itu akan hilang dan ia tinggalkan untuk orang lain (diwariskan)"
(Sumber : Kholid Bin Sualaiman Ar-Robi "Shodaqoh Memang Ajaib")
Tampilkan postingan dengan label ISLAMI STORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAMI STORY. Tampilkan semua postingan
Minggu, 13 Maret 2011
♥♥ Tujuh kali Naik Haji Tidak Bisa Lihat Ka'bah (Kisah Nyata) ♥♥
"Kubur adalah rumah akhirat pertama, Bila selamat dikubur, maka yang setelahnya menjadi lebih mudah, bila tidak selamat di kubur, maka yang setelahnya lebih sulit." (HR. Tirmidzi dan Ibn Majah)
***************
Wanita ini luar biasa kejinya, ia mencari uang dengan berbagai cara, tukar menukar bayi, bahkan memasukkan jimat ke dalam mulut jenazah yang dimandikannya. Ketika ajalnya tiba, bumi tak mau menerimanya. Ia mati tergulung api.
***************
Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.
Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini
akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. "Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah".
Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, "Ummi undzur ila Ka'bah (Bu, lihatlah Ka'bah)." Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya. Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan. Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita.
Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitulah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.
Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka'bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kmebali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya. Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka'bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka'bah. Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya. Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka'bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.
Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka'bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka'bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya. Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat).
Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya.
"Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele," kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon. "Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit," cerita Sarah akhirnya.
"Oh, bagus.....Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia," potong ulama itu.
"Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram," ungkapnya terus terang.
Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.
"Disana...." sambung Sarah, "Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka."
Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.
"Astagfirullah......" betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting. Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.
"Cuma itu yang saya lakukan," ucap Sarah.
"Cuma itu ?" tanya ulama terperangah. "Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !". ucap ulama dengan nada tinggi.
"Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?" tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
"Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati."
"Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia," kata ulama
"Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir."
"Maksudnya ?". tanya ulama tidak mengerti.
"Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati."
"Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan."
Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.
"Cuma itu yang kamu lakukan ?". "Masya Allah....!!! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan".
Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu. Akhirnya ulama itu berkata, "Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda."
Bumi menolaknya
Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah telah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.
"Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad," ujar Hasan Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut. "Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?". tanya ulama itu.
Hasanpun akhirnya bercerita :
Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit.
Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.
Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri. Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya," Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah !". kata orang itu. Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya. "Aku minta supaya kau jangan menengok ke belekang, sampai tiba di rumahmu, "pesan lelaki itu. Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan jenazah ibunya.
Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langkah seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu. Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.
Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allh SWT.
Semoga kisah nyata dari Mesir ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Amien.
Selasa, 15 Februari 2011
♥♥ PENDUDUK SURGA YANG BERJALAN DI BUMI ♥♥
Dengan air wudhu yang membasahi wajahnya, seorang pris bersahaja itu memasuki masjid. Ia sebagaimana orang-orang pada umumnya, sebenarnya biasa-biasa saja jika dilihat dari enampilan luarnya. Namun pada saat itu semua mata orang-orang di dalam masjid tertuju padanya.
Apa keistimewaan dan kelebihan laki-laki itu? Dialah seorang calon penghuni surga, sebagaimana diisyaratkan Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya. "Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk kemari, " demikian sabda nabi SAW menginformasikan kepada sahabat (M.Quraish Shihab, lentera hati . 1997)
Tentu saja , informasi nabi SAW mengenai seorang calon penghuni surga membuat banyak orang merasa penasaran dan bertanya-tanya. Akhirnya, setelah tiga hari berturut-turut sejak Nabi SAW menginformasikan mengenai calon penghuni surga, hanya Abdullah Ibnu 'Amr yang berusaha "memeras otak" untuk mengobati rasa penasarannya.
"Saudara" demikian Abdullah menyapa calon penghuni surga, "telah terjadi kesah-pahaman antara aku dan orang tuaku, dapatkah aku menumpang dirumah anda selama tiga hari?"
Tentu, tentu...." Jawab si penghuni surga.
Niat baik Abdullah bin' Amr untuk berusaha 'mencuri' informasi apa gerangan amalan yang dilakukan calon penghuni surga ternyata sia-sia. Selama tiga hari tiga malam, si calon penghuni surga rupanya tetap tidak menunjukkan sesuatu yang istimewa. Tidak ada ibadah khusus , tidak ada puasa sunnah, tidak juga shalat malam secara istiqamah,dan seterusnya.
Si calon penghuni surga juga kepasar seperti halnya orang-orang yang kepasar setiap harinya, berdagang atau membeli sesuatu.
Karena Abdullah Bin' Amr merasa kehabisan akal cara mendapatkan "bocoran informasi" mengenai calon penghuni surga secara diam-diam, maka akhirnya ia berterus terang, "Apakah yang anda perbuat sehingga Anda mendapat jaminan surga?"
"Apa yang anda lihat itulah" ( Jawab si penghuni surga yang malah membuat bingung Abdullah bin 'Amr. Maka karena ia merasa tak bisa membongkar jawaban dari calon penghuni surga, Abdullah buru-buru segera mohon diri.
Untungnya , si calon penghuni surga segera menghentikan seraya menambah penjelasannya, "Apa yang anda lihat itulah yang saya lakukan, ditambah sedikit lagi yaitu, "SAYA TIDAK PERNAH MERASA IRI HATI TERHADAP SESEORANG YANG DIANUGERAHI NIKMAT OLEH TUHAN. TIDAK PERNAH PULA MELAKUKAN PENIPUAN DALAM SEGALA AKTIVITAS SAYA."
Abdullah Bin'Amr pun menganggukkan kepala seraya bergumam lirih, "Rupanya yang demikian itulah yang menjadikan Anda mendapat aminan surga."
Iapun segera mohon diri dari hadapan calon penghuni surga. Sambil berjalan, ia terus merenung , Mampukah menjalankannya?"
[Dikutip dari "Jika Surga Neraka (tak pernah) Ada]
Apa keistimewaan dan kelebihan laki-laki itu? Dialah seorang calon penghuni surga, sebagaimana diisyaratkan Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya. "Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk kemari, " demikian sabda nabi SAW menginformasikan kepada sahabat (M.Quraish Shihab, lentera hati . 1997)
Tentu saja , informasi nabi SAW mengenai seorang calon penghuni surga membuat banyak orang merasa penasaran dan bertanya-tanya. Akhirnya, setelah tiga hari berturut-turut sejak Nabi SAW menginformasikan mengenai calon penghuni surga, hanya Abdullah Ibnu 'Amr yang berusaha "memeras otak" untuk mengobati rasa penasarannya.
"Saudara" demikian Abdullah menyapa calon penghuni surga, "telah terjadi kesah-pahaman antara aku dan orang tuaku, dapatkah aku menumpang dirumah anda selama tiga hari?"
Tentu, tentu...." Jawab si penghuni surga.
Niat baik Abdullah bin' Amr untuk berusaha 'mencuri' informasi apa gerangan amalan yang dilakukan calon penghuni surga ternyata sia-sia. Selama tiga hari tiga malam, si calon penghuni surga rupanya tetap tidak menunjukkan sesuatu yang istimewa. Tidak ada ibadah khusus , tidak ada puasa sunnah, tidak juga shalat malam secara istiqamah,dan seterusnya.
Si calon penghuni surga juga kepasar seperti halnya orang-orang yang kepasar setiap harinya, berdagang atau membeli sesuatu.
Karena Abdullah Bin' Amr merasa kehabisan akal cara mendapatkan "bocoran informasi" mengenai calon penghuni surga secara diam-diam, maka akhirnya ia berterus terang, "Apakah yang anda perbuat sehingga Anda mendapat jaminan surga?"
"Apa yang anda lihat itulah" ( Jawab si penghuni surga yang malah membuat bingung Abdullah bin 'Amr. Maka karena ia merasa tak bisa membongkar jawaban dari calon penghuni surga, Abdullah buru-buru segera mohon diri.
Untungnya , si calon penghuni surga segera menghentikan seraya menambah penjelasannya, "Apa yang anda lihat itulah yang saya lakukan, ditambah sedikit lagi yaitu, "SAYA TIDAK PERNAH MERASA IRI HATI TERHADAP SESEORANG YANG DIANUGERAHI NIKMAT OLEH TUHAN. TIDAK PERNAH PULA MELAKUKAN PENIPUAN DALAM SEGALA AKTIVITAS SAYA."
Abdullah Bin'Amr pun menganggukkan kepala seraya bergumam lirih, "Rupanya yang demikian itulah yang menjadikan Anda mendapat aminan surga."
Iapun segera mohon diri dari hadapan calon penghuni surga. Sambil berjalan, ia terus merenung , Mampukah menjalankannya?"
[Dikutip dari "Jika Surga Neraka (tak pernah) Ada]
Langganan:
Postingan (Atom)
About Me
- ...CaNdRa KiRaNa...
- @ Tuhan, Saat aku meyukai seorang teman, Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir, Sehingga aku akan tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir. @ Tuhan, Ketika aku merindukan kekasih, Rindukanlah aku kepada yang rindu kepada cinta sejati-MU, Agar kerinduanku kepada-MU semakin menjadi. @ Tuhan, Jika aku hendak mencinta seseorang, Temukanlah aku dengan orang yang mencintai-MU, Agar bertambah kuat cintaku pada-MU. @ Tuhan, Ketika aku sedang jatuh cinta, Jagalah cinta itu, Agar tidak melebihi cintaku pada-MU. @ Tuhan, Ketika aku berucap aku cinta padamu, Biarlah kuakatakan kepada yang hatinya tertaut pada-MU, Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-MU.


