Kamis, 24 Maret 2011

♥♥ 8 KEBOHONGAN IBU ♥♥

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. 
Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini 
justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, 
ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga 
yang paling indah di dunia.

ini ada sebuah cerita kesaksian seorang anak :
 

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki 
di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. 
Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. 
Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: “Makanlah nak, aku tidak lapar” KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
 

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya 
untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, 
ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, 
ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, 
ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang 
yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, 
hati juga tersentuh, lalu menggunakan sendokku dan memberikannya kepada ibuku. 
Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, 

ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, 
dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. 
Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu 
pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. 
Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” 
Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek”
KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. 

Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu 
aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, 
menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan 
teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental 
tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. 
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu 
sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!” 
KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” 

KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
 

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit”
KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master 

di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. 
Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, 
aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa”
KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, 

harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik 
langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang 
terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, 
menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya 
terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa 
penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. 
Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali 
melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : 
“jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” 
KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, 

ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto saya
@ Tuhan, Saat aku meyukai seorang teman, Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir, Sehingga aku akan tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir. @ Tuhan, Ketika aku merindukan kekasih, Rindukanlah aku kepada yang rindu kepada cinta sejati-MU, Agar kerinduanku kepada-MU semakin menjadi. @ Tuhan, Jika aku hendak mencinta seseorang, Temukanlah aku dengan orang yang mencintai-MU, Agar bertambah kuat cintaku pada-MU. @ Tuhan, Ketika aku sedang jatuh cinta, Jagalah cinta itu, Agar tidak melebihi cintaku pada-MU. @ Tuhan, Ketika aku berucap aku cinta padamu, Biarlah kuakatakan kepada yang hatinya tertaut pada-MU, Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-MU.